Jihad Intelektual: Pilar menuju Islam sebagai Teologi Pembebasan

Oleh Ahmad Rodif Hafidz[1]

Syak wasangka terhadap wacana Islam sebagai teologi pembebasan (liberation theology) sampai saat ini rupanya masih melekat kuat di benak setiap muslim. Bahkan, terkadang wacana tersebut sampai dimaknai sebagai kritik bernada negatif serta gugatan atas sikap ketauhidan yang tunduk terhadap Yang Maha Esa.

Dalam esai ini, penulis ingin mengajak kita semua sebagai muslim agar membuka mata untuk melihat kondisi dunia hari ini secara multidimensional. Khususnya kondisi mengenai dunia Islam yang rasa-rasanya sedang terpuruk. Hal ini dimaksudkan agar kita sebagai pemuda muslim yang bakal menjadi penerus perjuangan dakwah Islam mampu memahami situasi secara kritis dan komprehensif agar tidak tersesat dan malah membuat Islam kian terpuruk.

Islam diturunkan ke bumi untuk disebarkan ajaran-ajarannya oleh Nabi Muhammad saw. bukan tanpa halangan. Justru semula masyarakat Arab waktu itu sama sekali tidak percaya dengan Muhammad sebagai penyampai wahyu Tuhan. Anggapan bahwa Muhammad adalah orang gila, penyihir, dan tukang tipu justru dilontarkan oleh masyarakat jahiliyah pada masa itu. Segala penentangan yang sampai berujung penyiksaan terhadap Muhammad malah berulangkali terjadi. Namun tak pernah sedikit pun sikap putus asa keluar dari diri Muhammad.

Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis, misi Nabi Muhammad diutus ke dunia ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebab, kala itu, utamanya masyarakat Quraisy hidup dalam nuansa jahiliyah. Di mana politeisme benar-benar menggejala. Selain pada urusan teologi, tata nilai kehidupan masyarakat pun benar-benar jauh dari kesantunan. Tak hanya itu, perbudakan dan penindasan juga telah menjadi adat istiadat masyarakat jahiliyah masa itu. Artinya, sangatlah relevan Islam yang dibawa Muhammad hadir juga untuk melawan segala bentuk perbudakan dan penindasan itu selain untuk misi transformasi akhlak.

Hingga pelan-pelan Islam dibumikan, sampai transformasi yang diharapkan pun terjadi. Islam mengalami kemajuan begitu pesat, tidak hanya di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya melainkan sudah merambah ke wilayah Eropa yang dulu banyak dikuasai oleh kekaisaran Romawi dan kental dengan nuansa Nasraninya. Namun, Islam juga sempat kembali mengalami masa runtuh akibat para pemimpinnya waktu itu malah sibuk berebut kuasa dan persoalan duniawi. Fluktuasi perkembangan dunia Islam itulah yang perlu kita kaji secara seksama.

‘Aamu al Huzni Dunia Islam

Semasa berjuang menyebarkan agama Islam, Nabi Muhammad pernah mengalami situasi yang amat terpukul dalam hidupnya. Di mana beliau kala itu ditinggalkan oleh dua orang penting dalam hidupnya. Yakni, pamannya, Abu Thalib yang selalu gigih membela Nabi Muhammad setiap melakukan dakwah penyebaran agama Islam di jazirah Arab dulu, dan istri tercintanya, Khadijah yang setia mendampingi Nabi berjuang. Masa itu dikenal sebagai ‘aamu al huzni, tahun kesedihan. Karena memang Nabi sampai benar-benar merasa sedih sebelum akhirnya “dihibur” oleh Allah SWT.

Dengan konteks, situasi, dan kondisi yang berbeda, ‘aamu al huzni, menurut mantan Ketua Umum PBNU yang kini menjadi Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI), KH Ahmad Hasyim Muzadi, hari ini kembali dialami oleh umat dan dunia Islam. Hal itu tergambar di mana Timur Tengah sebagai komunitas negara muslim dan mayoritas masuk dalam kategori negara dunia ketiga (the third worldism), beberapa negaranya sedang berada di titik nadir.

Terorisme, konflik antarmazhab, perang saudara, sampai masuknya intervensi militer negara-negara maju terjadi di kawasan yang amat kentara dengan historiografi Islamnya. Padahal jika kita mau membaca dengan kritis, pelbagai kasus tersebut yang nyaring didendangkan oleh media bukanlah sebuah fakta yang utuh dan menyeluruh, melainkan masih permukaan saja. Sedangkan keran di bawah permukaan itu ialah pertarungan antarnegara adi daya yang menjadikan kawasan-kawasan basis Islam itu sebagai medannya. Segalanya bertarung atas nama “Tuhan Kapitalisme”, tuhan yang menindas. Hal inilah yang tak pernah berani diungkap oleh media-media tersebut.

Islam sebagai Teologi Pembebasan

Intelektual muslim terkemuka yang berasal dari Iran, Ali Syariati (1933-1977) yang merupakan salah seorang tokoh dengan kiprah yang telah diakui dunia Barat. Gagasan-gagasannya tentang Islam progresif dan revolusioner telah mengubah pandangan umat dan negara-negara basis Islam tentang perjuangan melawan penindasan dan ketertundukan terhadap selain Allah.

“Aku memberontak, maka aku ada.” Begitu ungkapan Ali Syariati yang merupakan seorang penganut Syiah itu yang dengan tegas dan amat berani menentang kediktatoran pemimpin Iran kala itu, Syah Reza Pahlevi yang hanya menjadi boneka Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Perjuangan Ali Syariati untuk melakukan penggulingan kekuasaan itu pun berhasil dan tercatat sebagai perjuangan besar abad 20 yang dinamakan Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979.

Bahkan, perjuangan Ali Syariati itu, oleh Fred Halliday—seorang Marxis—sampai dianggap membuat kaum Marxis iri. Pasalnya, mereka yang mendaulat dirinya sebagai penganut ajaran komunisme Karl Marx dan Engels itu pun mengalami kebuntuan untuk menggerakkan jutaan rakyat turun ke jalan melawan kemapanan (kapitalisme). Dan iran telah melaksanakannya hingga rezim Syah Reza Pahlevi yang amat otoriter itu tumbang.

Melalui semangat Islam progresif-revolusionernya itu, Ali Syariati ingin membuktikan bahwa Islam tidaklah reaksioner, pasif, dan berpihak pada status quo. Sebagai sebuah agama, Islam telah membuktikan bahwa berhala-berhala duniawi yang membuat manusia terlena harus dihancurkan. Dengan itu pula, ia ingin menunjukkan bahwa Islam dengan ajarannya sangatlah relevan untuk menata perubahan hidup yang semula jahiliyah menuju tatanan yang berkeadaban dan berkemanusiaan.

Dengan gagasan itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa sejatinya Islam ialah agama yang mendorong pembebasan bagi seluruh umat manusia, menghindarkan dari segala bentuk penindasan. Dalam pandangan tauhid (teologi), Ali Syariati menyampaikan bahwa manusia hanya boleh takut pada satu kekuatan, yakni kekuatan Tuhan. Dengan demikian, segala bentuk dominasi dan hegemoni yang bermuara pada penindasan haruslah dilawan dengan tegas. Oleh karena itu, apabila seorang telah bertuhan, maka an sich ia seharusnya siap bekerja untuk keadilan, solidaritas, dan pembebasan.

Lewat gagasannya yang menjadikan Islam sebagai semangat melawan penindasan itulah Ali Syariati kemudian sebagai tokoh muslim yang mencetuskan ide Teologi Pembebasan (Liberation Theology) dalam Islam dan mengaktualisasikannya dalam bentuk revolusi massa.

Mengenai bentuk penindasan itu, Ali Asghar Engineer yang menulis buku Devolusi Negara Islam lantang mengatakan, any society which perpetuates of the weak and the oppressed cannot be termed as an Islamic society, even if other rituals are enforced. Setiap masyarakat yang melanggengkan eksploitasi terhadap mereka yang lemah dan tertindas tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam, bahkan meski mereka menegakkan berbagai ritual Islam.

Raushan Fikr dan Jihad Intelektual

Namun, gagasan tentang teologi pembebasan itu tidak akan berhasil diwujudkan apabila umat Islam sendiri jauh dari keadaan tercerahkan secara pemikiran (raushan fikr). Maka dari itu, hal lain yang perlu digarisbawahi dari gagasan teologi pemebebasan ialah kesadaran dan kemauan umat untuk tidak berhenti belajar dan mengembangkan potensi pemikirannya menjadi aksi-aksi yang berimplikasi bagi kesejahteraan semesta.

Pemahaman teologi keislaman harus beranjak dari dogma teosentris menuju teomorfis. Terkait hal ini, Hassan Hanafi mengemukakan bahwa apabila dalam memahami Islam umat masih ada pada titik belenggu dogmatik, maka pandangan Islam sebagai agama pencerahan itu tidak benar-benar hidup. Padahal, Islam harus hidup dan memberikan motivasi serta tindakan dalam mengatasi persoalan konkret di tengah-tengah masyarakat.

Hassan Hanafi mengkritik, selama ini penyusunan doktrin teologi dalam Islam tidak didasarkan atas kesadaran murni yang lahir dari dalam nurani dan dilaksanakan sebagai sebuah nilai-nilai perbuatan manusia. Akibat kegagalan doktrin tersebut, masyarakat terdikotomikan oleh pandangan keimanan teoritis dan keimanan praktis yang bisa berujung pada “sinkretisme kepribadian”

Pemahaman tersebut bisa menjadi fatal apabila dibarengi keterbatasan memahami teks-teks Al Quran, sehingga bisa muncul anggapan Islam ialah agama yang tidak siap dengan segala bentuk perubahan zaman. Akibatnya, seperti yang hari ini biasa kita saksikan di pelbagai media, konflik yang terjadi di Timur Tengah misalnya, apalagi kalangan yang dalam hal ini berjuang mengatasnamakan agama namun sebenarnya mereka telah salah dalam menginterpretasikan teks-teks Al Quran maupun hadis.

Mengenai hal ini, gagasan Nurcholis Madjid yang akrab disapa Cak Nur tentang “dekonstruksi tafsir jihad” barangkali perlu kembali dijadikan wacana penyegara. Apalagi untuk hari-hari ini di mana pemahaman konservatisme dan puritanisme Islam kian menggejala.

Dewasa ini tentu kita sering mendengar bahkan menyaksikan demonstrasi-demonstrasi jalanan atau aksi kelompok militan yang ikut terjun berperang di Timur Tengah dan menyerukan tentang jihad, jihad, dan jihad sebagai landasan niat mereka. Barangkali mereka ini bermaksud mengikuti perintah Allah dalam Surat Al Anfal ayat 15, “jangan mundur bila orang kafir menyerangmu”.

Pemahaman kelompok-kelompok tertentu yang barangkali mengikuti perintah ayat tersebut dalam buku Teologi Inklusif Cak Nur karangan Sukidi dikategorikan sebagai jihad fisikal. Kemudian muncul perntanyaan dalam benak kita semua, apakah masih relevan berperang seperti zaman dahulu di tengah kondisi zaman yang kian modern seperti sekarang ini? Bukankah malah memicu munculnya korban jiwa dan pertempuran yang lebih merugikan banyak pihak apabila jihad fisikal itu diambil sebagai pilihan? Tentu apabila kita mau berpikir logis, jawabannya pasti kita semua menolak bentuk jihad fisikal tersebut.

Musababnya, jihad fisikal malah dapat memicu permasalahan-permasalahan baru. Pertama,secra teologis jelas merusak rintisan dialog teologis antarumat beragama. Kedua, secara psikologis malah dapat mengusik ketenangan dan kesejukan jiwa-rohanji umat manusia. Ketiga, secara sosiologis malah dapat memperkeruh suasana kehidupan beragama di tengah pluralitas suku, agama, ras, dan antargolongan.

Zainuddin Sardar dalam bukunya The Other Jihad Moslem, Intellectuals and Their Responsibilities (1995) mengatakan bergerak majunya zaman faktanya malah memicu munculnya pemimpin umat yang menggunakan jihad dalam rangka mempertahankan monopoli kekuasaannya dan mendukung kebijakan penguasa yang menindas. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan konsep Islam sebagai teologi pembebasan yang diusung Ali Syariati. Seperti kelompok Khawarij yang menggunakan “hegemoni makna” dari proses “sakralisasi teks” yang diwujudkan dalam bentuk jihad secara fisikal.

Maka dari itu, Sardar mendorong agar jihad intelektual dilahirkan ke tengah-tengah umat sebagai perwujudan perjuangan dakwah Islam yang berorientasi pada nilai kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Dengan begitu, khittah Islam akan dikembalikan lagi sebagaimana misi awal kenabian Muhammad yang diutus sebagai penyempurna aklak manusia dan pembebas atas segala bentuk penindasan. Semoga!

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo masa khidmat 2014-2016, mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi di FT UNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s