Pengembaraan Lakon (tentang Senja dan Cinta yang Berdarah)

Oleh Henri Firmansah[1]

Senja dan Cinta yang Berdarah

Judul:
Senja dan Cinta yang Berdarah
Penulis :
Seno Gumira Ajidarma
Tebal:
xviii + 822 halaman
ISBN:
978-979-709-851-3
Penerbit:
Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit:
2014

Dunia fiksi memang begitu luas. Atau dalam bahasanya Seno Gumira Ajidarma, sangat luas, bahkan tiada yang bisa lebih luas lagi.

Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk sebuah perjalanan dalam dunia fiksi pada rubrik cerpen Kompas Minggu. Senja dan Cinta yang Berdarah, sebuah antologi yang berisi cerpen sejak tahun 1978 sampai 2013. Mulai dari era orde baru sampai sekarang, cerpen-cerpen Seno selalu menghadirkan berbagai variasi tema sesuai konteks sosial historis zamannya.

Dalam buku setebal 822 halaman ini, kita akan dibawa menyusuri setiap jalan piki-ran Seno. Setiap momen, setiap suasana dalam cerpen-cerpen Seno seolah menghipnotis pem-bacanya untuk larut dalam insiden, kisah cinta, kesendirian, kenangan, ketakutan, keindahan senja, dan bahkan kita dapat dibuat terbahak-bahak oleh candaan satire khas Seno Gumira.

Secara umum, kumpulan cerpen ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian-bagian itu menandakan periodisasi masa kepenulisan Seno. Periode pertama 1978-1981 ada 8 cerpen. Pada masa awal ini terlihat jelas gaya kepenulisan Seno yang memang waktu itu masih berusia 20-an tahun. Style menulis dengan bahasa slank khas anak muda waktu itu. Akan tetapi, menjadi menarik ketika kita cermati beberapa cerpen di periode ini. Contoh pada cerpen “Menunggu” yang mence-ritakan seorang tua yang sendirian menanti kematiannya. Cerpen seperti itu mem-butuhkan perenungan yang mendalam tentang makna sebuah kematian. Ketika membaca, kita tidak akan menyangka bahwa cerpen itu ditulis oleh seorang anak muda yang pada waktu itu berumur 20 tahun.

Periode kedua adalah periode pada tahun 1982 sampai tahun 1990. Pada periode ini keberanian Seno sebagai seorang jurnalis dan juga cerpenis tampak, terlihat pada tiga cerpen yang tergabung dalam trilogi Penembak Misterius “Keroncong Pembunuhan”, “Bunyi Hujan di Atas Genting”, dan “Grhhh” yang terang-terangan mengkritisi kebijakan pemerintah orde baru pada waktu itu, tentang penembakan misterius (Petrus).

Periode terakhir, yaitu periode 1991 sampai 2013. Di sini muncul beberapa cerpen legendaris Seno seperti “Pelajaran Mengarang” dan “Sepotong Senja untuk Pacarku” yang menunjukkan kematangan Seno Gumira dalam menulis cerpen. Ada pula “Legenda Wongasu”, dan “DodolitdodolitdodolibretJ” dengan gaya satirenya. Lalu rangkaian cerpen yang terinspirasi dari Insiden Dili, 1991. Antara lain “Telinga”, “Maria”, “Salvador”, “Rosario”, “Klandestin”, dan “Misteri Kota Ningi”. Dari sini kita bisa melihat kepiawaian Seno dalam mengungkapkan sebuah tragedi kemanusiaan yang begitu menyayat hati tentang kekejaman oknum tentara kepada rakyat di Dili, Timor Timur. Tidak ketinggalan pula cerpen yang memadukan antara fakta dan data yang akurat seperti “Aku, Pembunuh Munir” yang sangat kental dengan suasana politis.

Walaupun cukup tebal, tetapi buku ini menyajikan berbagai sisi lain kehidupan dalam sudut pandang karya sastra yang tentunya sangat menarik untuk dibaca. Gaya kepenulisan fragmentaris dan openending agaknya menjadi kekuat-an dari cerpen-cerpen Seno. Cerpen-cerpennya mampu menyihir pembaca untuk mengikuti jalan penceritaan Seno dan akhirnya menentukan sendiri akhir dari pengembaraan lakon.

[1] Penulis adalah kader PMII Rayon Ranggawarsita, mahasiswa Sastra Daerah FIB UNS yang juga bergiat di Sastra Serat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s