Udin Saputra, Sosok Ketua Internal PMII Solo; Kuli Bangunan Hingga Jual Gorengan Demi Kuliah

Udin Saputra

Udin Saputra

Dewasa, sabar, rendah hati, pekerja keras, rajin beribadah, romantis

Begitulah kira-kira gambaran sederhana tentang sikap dan sifat dari mahasiswa yang satu ini. Udin Saputra namanya. Jauh-jauh merantau dari Kabupaten Pati ke Kota Solo demi menuntut ilmu di program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Mahasiswa kelahiran Pati, 19 Agustus 1990 ini acapkali dituakan oleh teman-temannya di kampus maupun di organisasi. Pasalnya, jika melihat kebanyakan mahasiswa seusianya, semestinya ia masuk kuliah pada tahun 2009. Namun karena berbagai faktor, gelar mahasiswanya pun baru ia dapatkan di tahun 2011 ketika ia diterima di UNS setelah melalui karantina di pesantren kilat (Sanlat) yang diselenggarakan oleh Ansor Pati.

Kiprahnya di dunia organisasi tentu sudah tidak perlu diragukan lagi. Mulai dari anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang digelutinya sejak pendidikan menengah, hingga ia menjabat sebagai Sekretaris Cabang (Sekcab) IPNU Pati. Di dunia kampus, berdasarkan rekomendasi dari seorang sahabatnya di IPNU kala itu, ia dimasukkan—dan akhirnya memilih—bergulat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kentingan UNS sejak pertama kali berpredikat sebagai mahasiswa.

Sama halnya dengan semasa di IPNU, kiprahnya di PMII juga dimulai dari nol. Awalnya hanya sebatas anggota biasa. Setelah menjalani proses tahun demi tahun, sejak 9 April 2013 lalu, ia telah disumpah untuk memegang jabatan sebagai Sekretaris Umum (Sekum) di PMII Komisariat Kentingan UNS pada masa periode kepemimpinan Sahabat Ahmad Rodif Hafidz dan Ketua Bidang Internal PMII Cabang Kota Solo di bawah pemimpin yang sama. Aktif di organisasi pergerakan tentu membuatnya memiliki kapasitas lebih dibanding mahasiswa yang aktif di non-pergerakan, apalagi mereka yang nihil aktivitas organisasi. Oleh sebab itu, di akhir tahun 2013, ia ikut ambil peranan dalam pesta demokrasi kampus UNS. Setelah mencalonkan diri sebagai calon anggota Dema UNS di tingkat distrik (fakultas) dari Partai Wali Cinta dan bersaing dengan para aktivis dari berbagai partai serta bendera organisasi eksternal, akhirnya ia berhasil mendapat kursi di Dema. Alih-alih juga menjadi perwakilan dari PMII di internal kampus.

Namun siapa sangka, di tengah aktivitas organisasinya yang terbilang cukup padat, ia masih dapat membagi waktunya untuk bekerja mencari tambahan uang saku dan untuk pacarnya di Pati. Kalau urusan ibadah dan kuliah, mahasiswa yang akrab disapa Udin ini jangan lagi diragukan. Dia juaranya.

Diakui, Udin berasal dari keluarga yang secara ekonomi terbilang pas-pasan. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan di luar Jawa, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga yang sesekali sambil berjualan apapun yang bisa dijual. Sejak kecil, ia sudah dididik untuk mandiri. Ia tidak pernah malu untuk mencari uang semasa menempuh sekolah dulu. Asalkan halal, ia mau melakukannya.

Setelah lulus dari SMA tahun 2009 dan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di universitas tengah tinggi-tingginya, ia harus merelakan cita-citanya itu tertunda karena faktor ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan waktu itu. Ia pun terpaksa harus bekerja untuk mencari bekal demi mewujudkan cita-citanya itu. Pernah ia bekerja sebagai penjaga kios pulsa di desanya. Dimana kala itu ia digaji dengan ongkos yang jauh di bawah rata-rata upah minimum kabupaten/kota (UMK). Beberapa pekerjaan lain pun sudah pernah ia geluti, termasuk menjadi kuli bangunan.

Hebatnya, kala itu, pascalulus SMA dan belum bisa kuliah, ia tetap aktif di IPNU Cabang Pati. Dengan giat ia mengabdikan dirinya demi membimbing adik-adik pelajar untuk tetap sadar dan yakin berjalan dan berjuang di Nahdlatul Ulama (NU). Meski belum bisa kuliah, ia tetap membekali mereka yang hendak kuliah dengan pemahaman ke-NU-an dan ke-ahlussunnah wal jamaah (aswaja)-an agar nantinya di dunia kampus yang sangat dinamis itu mereka tidak terjerumus ke dalam aliran-aliran yang justru menyimpang dari ajaran orang tua, guru, dan ulama.

Bulan demi bulan ia jalani, tahun demi tahun ia lalui. Akhirnya pada tahun 2011, melalui program Sanlat Mata Air yang diselenggarakan oleh Ansor, Udin mendapat kesempatan untuk belajar di UNS. Ketika itu, ia masuk UNS melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur tertulis. Namun sayang, ia tidak memperoleh beasiswa di awal kuliahnya.

Sebenarnya, jika dipaksakan, orang tuanya tentu siap untuk membiayai kuliah Udin di UNS selama delapan semester. Akan tetapi, Udin juga menyadari bahwa ia masih memiliki seorang adik perempuan yang waktu itu masih duduk di bangku SMA. Sebagai tukang bangunan, gaji ayah Udin tentu tidak tetap setiap bulannya. Ketika beliau diminta mengerjakan proyek bangunan, barulah akan menerima gaji. Namun jika tidak ada proyek, maka terpaksa beliau nganggur. Hal itu lah yang membuat mahasiswa 25 tahun ini memilih untuk mencoba menjadi mahasiswa yang mandiri.

Meski belum sepenuhnya mandiri, karena untuk sejumlah biaya keperluan kuliah masih ditanggung orang tuanya, dalam hatinya tampak tertanam bahwa ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Ia pun mulai ikut membantu seorang sahabat di PMII yang memiliki usaha jualan minuman teh (Estevia) di kampus. Mulai dari membantu memasak air, menyedu teh, hingga mengangkut wadah ke kampus setiap pagi sudah ia lakukan semenjak tahun pertamanya kuliah. Ya, dengan hanya membantu seperti itu memang tidak seberapa uang yang ia dapat. Tapi, setidaknya ia sudah mampu membuktikan bahwa mahasiswa itu dengan kecerdasan akal dan pikirannya harus mampu berbuat mandiri dan tidak terus-terusan bergantung pada orang tua. Dengan kemampuan skill yang dimiliki seorang mahasiswa, seharusnya mahasiswa mampu mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, termasuk menghasilkan recehan dari skill tersebut.

Waktu semakin berlalu, Udin yang kini memasuki semester enam ini akhirnya memberanikan diri untuk membuka usaha jualan gorengan di sekitar kampus. Dengan modal yang ia miliki, sebuah gerobak penjual gorengan pada umumnya pun akhirnya dibeli. Sebanarnya, sudah sejak lama niatan untuk berjualan gorengan tersebut muncul. Namun karena modal baru bisa terkumpul, sehingga rencananya ini baru bisa direalisasikan di tahun 2014 ini.

Sebagaimana kebanyakan mahasiswa, rasa malu kerap melingkupi ketika diminta untuk melakukan sebuah usaha berjualan. Apalagi ini jualan gorengaen yang letaknya sangat dekat dengan kampus. Tapi tidak bagi Udin. Tak sedikit pun terbersit dalam benaknya akan rasa malu demi sebuah kemandirian.

Hingga akhirnya setelah semua perlengkapan jualan pun siap dan bahan baku untuk aneka gorengan yang akan ia jual juga telah siap dimasak, Selasa (4/3) sore, Udin memulai usaha barunya dengan berjualan gorengan. Di hari pertamanya berjualan, nasibnya memang belum beruntung. Dari sekian banyak gorengan yang telah ia masak, hanya Rp 4.000 uang yang ia dapat. Uang tersebut tentu sangat tidak sebanding dengan modal yang sudah ia keluarakan. Padahal, kala itu ia telah menggoreng ratusan aneka gorengan mulai dari tempe, bakwan, hingga molen. “Cuma satu pembeli saja hari ini,” tutur Udin dengan nada pelan.

Namun, Udin yang dikenal pantang menyerah ini pun yakin bahwa semua permulaan pasti terasa berat. Terus berjuang dan berjuang, itulah yang dilakukan Udin. Ia yakin, apa yang tengah ia lakukan ini hanyalah sebuah awalan yang memang harus dijalani dengan penuh perjuangan yang terasa susah payah, namun kelak, dari perjuangan ini, dari usaha berjualan gorengan ini ia akan mampu mereguk hasil yang manis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s