Selayang Pandang Pemaknaan Agama; Antara Kepentingan Politik dan Amaliah

Oleh Mustaq Zabidi[1]

Agama dalam kacamata kebendaan diartikan sebagai ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tidak hanya kepada tuhan melainkan tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulannya dengan manusia (hablun minannas) dan lingkungannya (hablun minal alam).

Agama dalam konteks hari ini dimaknai sebagai pengkultusan terhadap agama. Bukan lagi ditafsiri sebagai amaliah terhadap nilai-nilai religiusitas yang terkandung didalamnya. Implementasi nilai profetik tegak lurus untuk diselaraskan dengan konteks diri dan hari ini. Artinya, mahasiswa sebagai kaum insaniah perlu kiranya untuk memegang teguh nilai kenabian. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai insan kamil yang menjadi teladan bagi kaum muslim.

Permasalahan agama mengenai pemahaman dan pemaknaan kini menjadi multi tafsir disegala sektornya, sehingga banyak terjadi arah pemikiran yang berbeda dan tendensi terhadap pemaknaan yang minim. Setidaknya, ada dua kecenderungan untuk memaknai hal tersebut. Pertama, kepentingan politik yang mencampur-adukkan dengan agama. Artinya, siapa yang dominan tersebut memiliki arah politik yang kuat untuk menindas yang kecil. Bisa dikatakan, pengaruh kekuatan politik mampu untuk mengatur sistem birokrasi menjadi lebih berpihak, yang pada intinya memiliki kecenderung terhadap sub agama tertentu.

Kedua, amaliah yang tidak sesuai dengan konteks budaya kewilayahan. Artinya, agama dimaknai satu sudut pandang yang saklek sehingga mengindahkan persoalan sosial yang mengitarinya. Bisa dikatakan, kecenderungan konflik antar agama dan sub agama sudah barangkali terjadi. Hal tersebut muncul dikarenakan ketidaksinambungan untuk memahami dan lebih cenderung untuk menghakimi yang berbeda.

Ada satu titik persoalan yang menjadi kajian bersama, yakni munculnya kriminalitas dengan kedok agama. Hal ini dimaknai sebagai upaya radikalisme agama dalam menelurkan paham Islam Fundamentalis yang salah. Sederhananya, persoalan ISIS merupakan kriminalitas yang mengatasnamakan kepentingan agama untuk mencapai kekuatan politik dengan mengebiri nilai-nilai Islam yang sahih. Ada stigma keliru yang dibangun oleh ISIS, salah satunya mengenai konsep negara Islam.

Banyak sekali pihak yang  meragukan munculnya konsep negara Islam tersebut. Ada kecenderungan kepentingan politik tertentu  dibalik munculnya konsep negara Islam yang dibangun oleh ISIS. Salah satunya, propaganda politik barat dalam menguasai pos-pos penting  terkhusus minyak di negara timur tengah. Dengan memunculkan persepsi bersama seakan-akan ISIS menjadi musuh pokok, yang pada akhirnya justru permainan adu domba dari negara barat. Selain itu, ada kepentingan lain yang terselubung, yakni dengan merenggangkan hubungan lintas negara timur tengah yang terjalin dengan baik selama ini

Di lain itu, paham ISIS yang berkembang di masyarakat saat ini memberi signal ketakutan yang amat besar. Masyarakat menilai, paham ISIS merupakan paham Islam Fundamentalis yang menghalalkan segala cara untuk menuju kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Dengan mendoktrinasi masyarakat yang awam dengan agama dan realitas konflik yang terjadi di Timur Tengah. Istilah jihad  dan kata-kata pembelaan agama lainnya digembor-gemborkan dengan begitu leluasa. Padahal, konteks pemaknaan agama tidak mengartikan seperti itu.

Masyarakat muslim dunia harus jeli betul dalam merespon permasalahan ini, paham ISIS yang berkembang selama ini merupakan bagian strategi politik yang dicampur-adukkan dengan agama. Sekaligus menjadi proyek besar dalam kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Bicara konteks agama dewasa ini adalah bicara keimanan yang sangkut pautnya terhadap tuhan. Dengan melalui serangkaian peribadatan dan dogma-dogma agama. Sedangkan, agama hadir di tataran kehidupan manusia semata-mata untuk berbagi kebaikan bukan keburukan. Perbedaan sudah barangkali ada dan dimaknai sebagai keberkahan dari tuhan untuk saling mendengarkan, memahami dan tali kasih.

Lembaga pemerintah dan masyarakat muslim harus sinergi betul untuk membentengi umat muslim yang masih awam akan persoalan agama sehingga dengan pemahaman agama yang maksimal akan mempersulit masuknya paham ISIS yang merusak tatanan nilai-nilai agama yang fitrah.

Agama-amaliah perlu untuk diwujudkan bagi kaum muslim sebagai bentuk aplikatif keilmuan dan keislaman. Akan ada ketimpangan yang tidak sejalan manakala keilmuan tanpa tali kendali, dan keislaman tanpa ger yang berotasi.

[1] Penulis adalah Ketum PMII Komisariat Pabelan Surakarta yang juga aktif bergiat di Solo Reform Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s