Perdagangan Global; Ekspansi Politik-Ekonomi

Oleh Mustaq Zabidi[1]

Perdagangan global merupakan kegiatan ekonomi dimana perdagangan lintas negara terjadi. Persaingan terhadap kualitas barang dan jasa muncul sebagai korelasi terhadap kebutuhan pasar. Negara-negara dengan label kemandirian ekonomi dipastikan akan mendominasi jalannya perdagangan global. Arus barang dan jasa akan sangat menarik untuk diarus-transaksikan oleh negara dominasi seperti Tiongkok, Jepang, Amerika dan sebagainya.

Di kancah persaingan global, memposisikan Indonesiasecara mandiri dirasa masih sulit dengan ketatnya persaingan global. Persaingan ini tidak sekedar tertuju pada persoalan arus barang dan jasa. Melainkan, pada kemampuan Indonesia dalam memposisikan sebagai negara konsumtif. Apalagi pemenuhan kebutuhan terhadap barang interlokal masih cukup besar di masyarakat.

Menarik sekali, mengkajihajatan perdagangan global disituasi negara yang baru saja diguncang oleh disparitas rupiah terhadap mata uang dollar.Bahkan, tidak sedikit dari para pelaku ekonomi domestik yang tertegun-tegun menyikapi lesunya rupiah. Sehingga, banyak diantara mereka yang beranggapan pesimistis terhadap jalannya produktifitas ekonomi yang sedikit terhambat.

Setidaknya, ada klasifikasi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar ekonomi yang perlu dikaji lebih dalam. Pertama, sektor riil UMKM sebagai dasar ekonomi kerakyatan belum cukup mampu secara kapabilitas dan progresifitas. Sehingga, dalam berjalannya jenjang waktuarus transaksi ekonomi global akan sulit ditembus. Kedua, sebagai masyarakat konsumtif, tentu sangat mudah dipengaruhi oleh produk-produk asing yang lebih ekonomis, sehingga, akan mengakibatkan ketatnya persaingan barang dan jasa yang memungkinkan adanya kualitas dan mutu barang yang lebih baik.

Ketiga, rendahnya peran pemerintah dalam mengawal industri bangun karsa dan karya untuk masuk area ekspor. Karena, masih sedikit sekali industri dalam negeri yang tidak kuat secara pangsa pasar ke luar negeri. Sehingga, barang hasil produksi hanya mampu terserap di pasar lokal. Lebih dari itu,  tidak kuatnya distribusi produksi akan menghambat prestise untuk penguasaan produksi di sektor perdagangan global.

Persoalan diatas akan menjadi bumerang dikala strategi menghadapi persaingan arus globalisasi ekonomi tidak terskema dengan baik. Artinya, para pelaku ekonomi domestik yang kalah ulung dan unggul hanya menjadi bulan-bulanan para stakeholder asing yang mencoba mengambil peruntungan di dalam negeri. Karena, pijakan dasar ekonomi lokal yang kurang terukur dan kompatibel akan menimbulkan disorientasi pemenuhan kekuatan ekonomi. Sedangkan, secara kasat mata akan melumpuhkan dasar perdagangan (the basis for trade) dan keuntungan perdagangan yang menjadi pokok dalam menjelaskan dasar teori perdagangan internasional.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat ekonomi dunia belum memiliki spesialisasi terarah dalam melakukan peningkatan kemakmuran yang didasarkan melalui mekanisme perdagangan bebas. Sehingga, sulit untuk melakukan penetrasi terhadap persoalan di ring area perdagangan internasional. Sedangkan, diversifikasi kondisi produksi merupakan alasan dasar setiap negara untuk terlibat dalam perdagangan internasional.

Potensi keanekaragaman faktor produksi ekonomi menjadi buah bibir di negara-negara dengan orientasi eksploitasi kekuasaan ekonomi. Salah satu bagian ekspansinya adalah menjadikan negara Indonesia sebagai prospek penting bagi terciptanya stabilitas ekonomi global. Kavelingisasi ekonomi sudah lama dilakukan oleh negara-negara bagian, khususnya di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia. Negara-negara tersebut saling memperebutkan posisi strategis dalam pengembangan kekuatan ekonomi. Niatan untuk bergeliat tersebut mencakup pada distribusi barang dan jasa yang cukup luas. Sehingga, terwujudnya stabilitas ekonomi bukan suatu langkah yang tanpa hasil.

Sektor-sektor penting yang akan menjadi rebutan para kaum kapital yakni pada persoalan energi dan keuangan (kredit perbankan). Hal ini akan muncul dengan dominasi negara adikuasa, yakni Amerika dan China. Kedua negara tersebut akan terbagi dalam dua blok kekuasaan ekonomi. Amerika berada disisi penguasaan energi (blok minyak) karena telah banyak perusahaan energi yang berbendera Amerika.Sedangkan, China akan berposisi di segi penguasaan keuangan. Karena, telah mampu meningkatkan penguasaan barang hasil produksi dan acuan kredit utang perbankan.

Hal ini tak bisa dipungkiri, setelah perang dunia II runtuh dan persoalan blok negara timur dan barat yang ingin bertransformasi di zamannya. Rupanya, muncul dan menjadi kekuatan baru di era globalisasi ekonomi. Telaah kritis terhadap persoalan tersebut, bahwa pertarungan Amerika dan China telah disusun puluhan dekade yang lalu. Salah satu produkglobalisasi yang kentara saat ini adalah munculnya ekspansi dengan gagasan pembentukan pasar bebas.Negara-negara yang sudah berdikari secara ekonomi akan merasa memiliki kuasa yang lebih daripada negara-negara dengan posisi ekonomi yang kurang dinamis.

Bukan persoalan mudah bagi Indonesia untuk beradaptasi dengan kepungan negara kapitalis. Identifikasi masalah terhadap kondisi kritis sosial-ekonomi belum memunculkan langkah yang jitu. Disisi lain,  Indonesia telah terjebak dalam paradigma ekonomi liberalis yang jumud tanpa bercorak pada sikap kritis yang monografi-agresif. Sedangkan, langkah menujuproblem solving belum muncul dikala persoalan ekonomi dunia bermanuver dengan liar. Sehingga, embrio yang muncul akan mempersepsikan bahwa kekuasaan di segala lini ekonomi telah menjadi fatwa bagi negara dominasi dengan capaian kekuatan ekonomi global.

Pada tataran ekonomi produktif, negara ini masih jauh dari konsep ekonomi substantif. Artinya, catatan dimana siklus ekonomi di era 1800-an sampai 2010 masih saja menunjukkan arah ekonomi yang kurang bergeliat. Neraca perdagangan selalu tidak berimbang diakhir dan lebih didominasi pada capaian minus. Kebutuhan impor lebih tinggi daripada capaian ekspor. Sedangkan, capaian ekspor belum ditunjang secara komprehensif terhadap barang-barang primer. Sehingga, persoalan besar yang muncul adalah kegiatan impor merupakan pemecahmasalah yang sebetulnya menjadi alur masalah terhadap kebutuhan krisis dalam negeri.

Setidaknya, ada salah satu kesalahan terbesar pemerintah saat ini yang perlu dikaji ulang. Persoalan tersebuttertuju padaproyek pembangunan infrastruktur yang alokasi anggarannya berasal dari pinjaman utang luar negeri. Ini berbanding terbalik pada situasi instabilitas rupiah yang belum genap (fluktuatif) dan lambatnya pertumbuhan ekonomi domestik yang justru proyek pembangunan infrastruktur kian digiatkan. Persoalannya sederhana, pembangunan infrastruktur yang dibarengi dengan munculnya pasar bebasadalah jembatan bagi tercapainya mobilitas ekonomi yang tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat tapi juga para pelaku ekonomi dunia. Ini artinya, bahwa misi besar untuk terjadinya mobilitas ekonomi global akan lebih akrab dinikmati oleh stakeholder asing.

Keran investasi ini muncul sebagai dampak dari belum terkavelingnya pemerataan pembangunan disegala leading sector. Muncul sebuah asumsi, kenapa selama ini arah pembangunan ekonomi dan infrastruktur cenderung lambat dan selalu terpusat di satu titik.  Persoalannya sederhana, karena pemerintah kurang serius dalam menata situasi ekonomi yang universal. Artinya, kebutuhan penunjang produktifitas ekonomi yang berdikari harus sudah lebih dulu terpenuhi. Sehingga, persebaran arah pembangunan ekonomi akan terasa di semua daerah atau wilayah.

Kelebihan dan Kekurangan

Perdagangan global tidak semuanya berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi di sebuah negara. Meskipun, tidak sedikit diantara negara-negara yang merasa skeptis terhadap persoalan terjadinya ketimpangan ekonomi. Namun, ini akan menjadi pembelajaran bagi negara berkembang dalam upaya peningkatan daya saing barang dan jasa. Sehingga, persaingan arus perdagangan global semakin memberi peluang baik bagi terciptanya stabilitas ekonomi.

Ada beberapa dampak positif dan negatif dalam perdagangan global, diantaranya sebagai berikut:

Dampak positif

  • Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. Ini akan memberikan peluang besar terwujudnya distribusi barang produksi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
  •  Meningkatkan produksi global. Secara korelasi hubungan dagang akan menjamin bagi terciptanya peningkatan kualitas dan mutu barang. Karena, pasar lebih cenderung memilih barang denganquality fight.
  • Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara. Dengan terciptanya kombinasi perdagangan yang terarah maka akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat yang lebih baik.

Sedangkan, dampak negatif dari perdagangan global, diantaranya sebagai berikut :

  • Sistem perdagangan luar negeri yang menjadi lebih bebas dapat menghambat pertumbuhan sektor     indutri. Ini berlaku pada Industri dalam negeri yang memang belum memiliki pangsa pasar yang jelas. Sehingga, akan mempersulit produktifitas dan persaingan distribusi barang hasil produksi. Karena, negara-negara berkembang tidak dapat untuk menaikkan tarif tinggi dalam melakukan proteksi terhadap Industri yang baru berkembang.
  • Memperburuk neraca pembayaran. Negara-negara yang tidak mampu berorientasi bersaing dan upaya peningkatan ekspor akan cenderung berisiko. Karena, globalisasi ekonomi lebih menekankan pada kecenderungan menaikkan barang-barang impor. Sehingga, ini tidak baik bagi kondisi neraca pembayaran.
  • Memperburuk proses pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Karena, perdagangan global hanya lebih dinikmati bagi dominasi negara-negara besar yang sudah mapan secara ekonominya. Sehingga, dalam kurun waktu yang panjang akan berakibat tidak baik bagi negara-negara yang berada di garis ekonomi yang statis. Belum lagi, pendapatan nasional dan kesempatan kerja yang akan tumpul dan semakin melambat.

DAFTAR PUSTAKA

Farida, Ai Siti. 2011. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung; CV Pustaka Setia.

Van Zanden, Jan Luiten dan Marks, Daan. 2012. Ekonomi Indonesia 1800-2010; Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan. Jakarta; PT Kompas Media Nusantara.

[1] Penulis adalah Ketum PMII Komisariat Pabelan Surakarta yang juga aktif bergiat di Solo Reform Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s