Merakit Peradaban menuju Negara Dirgantara

Oleh Mustaq Zabidi[1]

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki bentang luas wilayah darat, laut dan udara yang tidak semua bangsa lain memilikinya. Sebagai negara kepulauan, bangsa Indonesia memiliki ribuan jumlah pulau yang masih belum tergarap. Guna menghubungkan pulau satu ke pulau yang lain, semboyan menuju negara dirgantara sangat tepat digaungkan dengan melihat kondisi bangsa Indonesia hari ini.

Sejarah panjang telah ditorehkan bangsa ini menuju cita-cita yang diharapkan para pendiri bangsa. Telah muncul para pemikir dunia dan ahli di bidang kedirgantaraan. Salah satunya, pada tahun 1946 muncul nama Nurtanio Pringgoadisuryo yang merupakan pelopor perancang industri penerbangan nasional. Jauh sebelum BJ Habibie muncul, Nurtanio berhasil merintis penerbangan nasional dengan produk unggulannya berupa pesawat layang Zogling NWG-1 (Nurtanio-Wiweko-Glider). Inilah kali pertama bangsa Indonesia memiliki pesawat nasional dengan produksi dalam negeri. Karena, seratus persen bahan dan tenaganya dari dalam negeri.

Berkat jasa Nurtanio lah kepala staf TNI AD 1946 mengusulkan dibentuknya Komisi Penerbangan. Bahkan, Nurtanio berhasil juga menciptakan pesawat terbang bermotor pertama di Indonesia. Dengan hanya berbekal peralatan dan bahan sederhana, yakni berupa mesin Harley Davidson 750 cc yang berkekuatan 20 tenaga kuda buatan tahun 1928. Tidak hanya itu, Nurtanio juga menorehkan prestasi terbaiknya dengan menciptakan beberapa pesawat baru lagi. Nurtanio seakan bermetamorfosa dengan tanpa lelah demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Pesawat antigerilya, pesawat belalang (yang dipakai sebagai pesawat latih calon penerbang AURI), helikopter dan sebagainya menunjukkan bukti atas pengorbanan yang dilakukan Nurtanio tidak sia-sia. Bahkan, dengan keberhasilan Nurtanio membuat Dewan Penerbangan Nasional membentuk Lembaga Persiapan Industri Penerbangan. Namun, pada 21 Maret 1966 Nurtanio tidak sempat meneruskan karyanya membangun industri pesawat. Karena, pesawat yang dikemudikannya jatuh di Kiara Condong, Bandung. Untuk mengenang akan jasa-jasanya, lembaga yang pernah dipimpinnya itu dinamakan Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada 16 Agustus 1976. Tidak hanya itu, bahkan nama Nurtanio diabadikan pada nama sebuah universitas di Bandung, yakni Universitas Nurtanio.

Selain Nurtanio, masih ada sosok technokrat yang cukup familiar di negeri ini. Beliau adalah BJ Habibie yang sekaligus merupakan Presiden RI ke-3. BJ Habibie merupakan sosok pengganti Nurtanio yang ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk melanjutkan kiprah yang dilakukan Nurtanio. Adapun produk yang dihasilkan BJ Habibie yakni berupa pesawat penerbangan dengan serie N-250 (Pesawat masa depan) dan pesawat N-2130. Meski tidak sebesar dari apa yang dilakukan oleh Nurtanio, BJ Habibie dinilai telah banyak berjasa bagi proses panjang sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia.

Lalu, mampukah generasi masa kini menjadi generasi penerus akan cita-cita dan harapan dari para pendahulu? Rasa-rasanya tidak ada yang musathil untuk melanjutkan misi yang digagas dari dua tokoh diatas. Tentunya, hal tersebut bisa terwujud manakala garis semangat dari komponen bangsa terus mengalir seperti yang dicontohkan Nurtanio dan BJ Habibie dalam melakukan perubahan.

Hal tersebut tidak akan sia-sia, karena bangsa Indonesia merupakan negara kewilayahan yang sangat luas dan dibutuhkan banyak pihak dan kalangan dalam memajukan bangsa. Masih ada PR besar yang harus diselesaikan dengan pasti. Sebab, diluar sana bangsa-bangsa lain telah lebih dulu mendahului bangsa Indonesia. Jangan sampai bangsa Indonesia menjadi bangsa yang selalu terbelakang dan tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Indonesia merupakan negara yang cukup diperhitungkan dunia dalam beberapa dekade di masa yang akan datang. Dengan melihat besarnya wilayah yang dimiliki, potensi menuju pusat negara dirgantara akan dengan pasti terwujud. Banyak sekali komponen bangsa yang terdiri dari kaum pemikir, ilmuan dan cendekiawan yang akan kembali ke tanah airnya demi membangunan peradaban bangsa yang lebih baik. Masing-masing dari mereka akan terlibat dalam menentukan nasib bangsa Indonesia kedepan.

Zaman selalu berubah dan peradaban semakin maju. Mau tidak mau bangsa Indonesia perlu untuk mencetuskan peradaban bangsa yang lebih baik. Semangat dalam menggagas peradaban tersebut harus didasari dan dibangun pada kolektifitas pemikiran yang optimistis. Sehingga, semangat hidup dalam merakit peradaban menuju negara dirgantara akan dengan mudah terwujud.

[1] Penulis adalah Ketum PMII Komisariat Pabelan Surakarta yang juga aktif bergiat di Solo Reform Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s