Meneladani Kebijaksanaan Pemimpin a la Konfusius

Oleh Ahmad Rodif Hafidz[1]

Pelbagai pemberitaan yang ada di media-media saat ini terkait isu korupsi, kejahatan, kekerasan terhadap anak dan perempuan, narkotika, dan isu-isu lainnya tentu membuat kita geram. Negeri ini memang sedang mendapatkan ujian dari Tuhan yang membuat kita harus lebih sadar akan dosa-dosa yang kita lakukan. Cobaan Tuhan tidak hanya bencana alam namun juga bencana moral.

Seringkali kita diperlihatkan dengan tingkah laku para pemimpin kita, para pemangku kebijakan, orang-orang yang mengatasnamakan wakil rakyat yang cenderung menghianati janji suci mereka untuk mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Penghianatan yang mereka lakukan pada akhirnya berdampak pada kesengsaraan rakyat.

Hal tersebut membuktikan bahwa para pemimpin di Indonesia saat ini memang minim integritas juga moralitas. Wajar saja jika sekarang ini dan ke depan rakyat yang semakin cerdas tentu akan lebih jeli dalam memilih sosok yang akan mereka jadikan sebagai pemimpin bagi mereka.

Sangat jarang saat ini kita temukan pemimpin yang benar-benar jujur memimpin demi kepentingan dan kesejahteraan hidup seluruh rakyatnya. Yang ada dan marak beredar justru mereka yang memimpin demi kepentingan golongannya sendiri bahkan yang paling kejam adalah demi kepentingan pribadinya semata. Menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dan keluarganya juga akhirnya berbuat semena-mena tanpa mempedulikan hakekat kebutuhan rakyatnya.

Memang sekarang ini agaknya tidak dikenal lagi kata ‘ideal’ bagi seorang pemimpin. Terlalu sulit nampaknya jika kita berbicara pemimpin yang ideal. Dia yang memimpin tentu akan membela siapapun yang mendukungnya. Mereka yang dulu tidak mendukung saat pencalonannya jangan harap mendapatkan pembelaan ketika sedang terbelit kesusahan. Dan hal semacam ini memang sudah dianggap sebuah kewajaran bagi semua orang.

Pemimpin yang memerintah dengan kebijaksanaannya (Ti) adalah seperti Bintang Kutub Utara yang berada di tempatnya dan semua bintang lain menuju ke arahnya. —Konfusius

Perlu sedikit kita menilik kepada sosok Konfusius atau Kong Fu-Tze, seorang pemimpin Cina yang lahir pada tahun 551 SM. Bagaimana dia memimpin daerah Zhong du dengan kebijaksanaannya sehingga pada masa itu rakyat hidup dalam kemakmuran. Memang agaknya seperti kisah dongeng yang tak nyata namun ini setidaknya kita bisa mencontoh sedikit dari kepribadiannya sebagai seorang pemimpin.

Dalam buku Stories of The Great Leader (Ahmad Zulkifli) disebutkan secara singkat sosok Konfusius. Bagi Konfusius, keberhasilan seorang pemimpin tak hanya ditentukan oleh power (kekuasaan) yang dimilikinya, namun yang lebih penting adalah ‘etika yang mulia’. Etika yang mulia itu hanya didapatkan melalui proses belajar. Selama hidupnya dia senantiasa menekankan pentingnya belajar.

Ce atau Ti yang merupakan salah satu konsep kepemimpinannya yang dikembangkan pada masa itu membuatnya dianggap sebagai salah satu pemimpin besar yang ada di dunia. Ce atau Ti yang memiliki makna bijaksana atau kebijaksanaan, pengertian, dan kearifan. Konfusius dikenal mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya dengan sikap tersebut.

Ketika dulu kaum realis menganggap bahwa satu-satunya pemerintahan yang efektif adalah pemerintahan yang memakai kekerasan fisik, Konfusius membantahnya dengan tegas. Memang jika kita melihat sekarang ini, pemimpin dengan otoritarian tanpa disandingkan dengan sikap bijaksana tidak akan mampu menjalankan roda kepemimpinannya dengan baik.

Memerintah itu adalah berjalan dengan lurus. Jika Tuan memimpin rakyat dengan lurus, siapakah diantara rakyat Tuan yang akan berani menyeleweng?

Begitulah kearifan sosok Konfusius yang perlu kita teladani. Seorang pemimpin harus memimpin di jalan yang benar. Dia harus mampu membawa rakyat kepada sebuah impian luhur yang pada hakekatnya itu menjadi hak setiap rakyat, yakni kesejahteraan.

Pemimpin harus mampu memberi teladan yang baik kepada rakyatnya. Bukan seperti sekarang ini, seorang pemimpin malah mendapat cemoohan dari rakyatnya karena dia tidak mampu memimpin dengan baik dan tidak mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.

Keteladanan dari Konfusius perlu dicontoh oleh para pemimpin sekarang ini. Memimpin dengan segenap kebijaksanaannya dan kearifannya demi kesejahteraan dan kenyamanan hidup rakyatnya. Walaupun nampaknya sulit menemukan sosok yang mempunyai sedikit sisi baik seperti Konfusius namun tidak ada salahnya bagi kita untuk mulai meneladani sikap-sikapnya dalam keseharian kita. Karena memang segala perubahan yang kita inginkan itu bisa dimulai dari diri kita sendiri hingga kemudian bisa kita tularkan kepada orang lain.

Semoga siapapun nanti yang akan memimpin bangsa Indonesia ini mampu memgemban amanah dengan segenap integritas dan kapabilitasnya demi menciptakan sebuah tatanan hidup yang sejahtera, adil, dan makmur.

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo, mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi di FT UNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s