Islam Nusantara dan Relevansi terhadap Agama

Oleh Mustaq Zabidi[1]

Islam saat ini bukan lagi dimaknai sebagai Islam yang rahmatal lil`alamin. Melainkan sebagai Islam yang lebih cenderung pada pola kekerasan. Baik kekerasan yang bersifat secara fisik maupun secara komunikatif.

Dalam konteks pemaknaan Islam, pola interpretasinya harus jelas dan sesuai dengan kondisi kewilayahan. Dahulu, Islam datang dan berkembang di Tanah Air dihadapkan pada konteks budaya secara kewilayahan. Bukan dibenturkan dengan perbedaan yang menghasilkan paham yang saling bersikukuh dan bertentangan. Maka dari itu, andil besar dari beberapa tokoh Islam yang salah satunya para wali songo dan ulama lainnya dalam memaknai Islam secara komunikatif menghasilkan Islam sebagai agama peneduh.

Sejarah tidak pernah mengingkari dalam melampirkan Islam sebagai agama yang mampu menerima perbedaan. Multietnis, suku dan budaya bukan lagi merupakan permasalahan yang alot untuk diperdebatkan tanpa ujung-pangkal. Melainkan diikat dengan pola pendekatan yang berkesinambungan tanpa melunturkan Islam yang apa adanya dan menghargai keanekaragaman.

Lalu, Islam yang seperti apa yang diharapkan oleh banyak penganutnya dan masyarakat secara konteks keagamaan? Islam yang paling tepat diterapkan di Indonesia adalah Islam yang bernapaskan keindonesiaan.  Artinya, pola Islam Indonesia dengan merangkul budaya yang ada dan keanekaragaman agama mampu untuk lebih berkembang daripada Islam kearab-araban yang saklek dan cenderung berseberangan untuk dikembangkan di Indonesia.

Islam dengan kekerasan tidak lagi relevan terhadap konteks kedewasaan Islam hari ini. Banyak sekali yang keliru memaknai Islam sebagai agama yang menjunjung kekerasan dan membatasi agama lain untuk berpandangan tentang perbedaan persepsi. Maka tidak heran, jika pandangan tersebut mengaburkan Islam secara fitrah.

Islam memang turun di Makkah, dengan bahasa arab sebagai perantaranya. Namun, hadirnya Islam tidak harus mengubah budaya yang sudah ada di setiap daerah atau wilayah. Bukan untuk mengubah saya jadi ana, kamu jadi antum dan sebagainya. Jangan salah untuk memaknai hal tersebut, apa yang sudah ada saat ini merupakan anugerah yang tuhan berikan kepada kita (bangsa Indonesia).

KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid dan ulama lainnya mereka belajar dan memperdalam ilmu agama di Timur Tengah. Setelahnya pulang, mereka lantas tidak menggembor-gemborkan budaya yang ada di Timur Tengah untuk diterapkan di Indonesia. Mereka paham betul, untuk memaknai antara kebudayaan Islam dan membudayakan Islam. Membudayakan Islam disini dimaknai sebagai upaya untuk membudayakan sesuatu hal dengan konsep serba islami. Apa-apa harus Islam, kalau tidak Islam maka kafir dan sebagainya.

Maka dari itu, kita harus paham betul memaknai Islam secara konteks kewilayahan. Islam Indonesia adalah solusi konkret yang perlu dikembangkan di Indonesia bukan yang lainnya. Hal ini senada dengan Masdar F Mas`udi yang mengatakan praktik keislaman nusantara akan menjadi model dunia sebab dunia sedang terbakar karena agama.

Yang jelas, hal itu ada di tangan umat Islam di Indonesia saat ini. Apakah mampu untuk menerima kondisi multikultural, multireligiusitas sebagai bentuk keterbukaan umat Islam untuk menerima keanekaragaman dan sebagainya, atau justru sebaliknya. Agama minoritas tidak untuk dikucilan oleh yang mayoritas. Begitu pula agama mayoritas tidak untuk menindas yang minoritas. Kekayaan agama ini merupakan bahtera hidup dalam beragama secara berdampingan bukan permusuhan.

Jikalau agama mayoritas tidak mampu untuk menghargai yang minoritas maka ada tanda tanya besar terhadap Islam Nusantara. Bagaimana tidak, kaum muslim Indonesia secara politik multikultural akan dipersoalkan. Karena menganggap agama minoritas sebagai kelompok yang disisihkan.

Islam hari ini harus memberi rahmat bagi sekelilingnya, tidak menjadi penghambat bagi proses berjalannya masyarakat lintas agama. Karena, secara hakekatnya Islam itu agama yang menjadi tauladan bagi yang memaknainya”

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Komisariat Pabelan Surakarta yang juga aktif bergiat di Solo Reform Institute

Advertisements

2 thoughts on “Islam Nusantara dan Relevansi terhadap Agama

  1. Menurut saya tidak ada masalah dengan Islam yg berkembang di Saudi. Sebab kenyataannya memang disanalah tempat Nabi mendapat Wahyu dan berasal. Yang tentunya “roh” keIslaman” nya lebih menjiwai.

    Persoalannya harus dipisah antara Agama dan Politik kekuasaan di Saudi sana. Agama tdk ada masalah kl diikuti, dan bagian Politik dan politisasi Kultur ini yg patut dihindari, salam.

    (bila berminat ada info menarik diblog saya)

    Like

    • Betul, Bung. Sebenarnya tidak ada masalah dengan Islam yang berkembang di Saudi, namun berdasarkan fakta historis perkembangan Islam dunia mengatakan, bahwa hari ini Saudi dengan segala manuvernya sudah sangat jauh dari harapan umat Islam dunia lantaran tidak memberikan teladan sebagai negara yang sangat lekat dengan identitas keislamannya.

      Maka dari itu, dunia Islam perlu membuka mata terkait hal itu dan harus mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang ada. Salah satunya tawaran Islam Nusantara sebagai sebuah “role model” Islam yang bisa berdampingan dengan lokalitas budaya.

      Matur nuwun, sudah berkunjung. Admin juga sudah berkunjung balik. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s