Harmonisasi Budaya dengan Ekonomi Masyarakat dari Sebuah Hik

Oleh Ahmad Rodif Hafidz[1]

Siapa yang tidak kenal Kota Surakarta atau bagi khalayak umum mungkin lebih dikenal dengan sebutan Kota Solo. Tentu semua orang kini semakin mengenal kota yang pernah dipimpin oleh Joko Widodo yang kini tengah menjadi pelayan bagi warga masyarakat DKI Jakarta ini.

Kota yang memiliki slogan “Berseri”—akronim dari bersih, sehat, rapi, dan indah—ini memang kerap menjadi tujuan wisata bagi turis baik lokal maupun mancanegara. Wajar saja jika banyak turis yang menjadikan kota ini sebagai tujuan wisata. Karena, masyarakat tentu sepakat bahwa Kota Solo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, mulai dari segi kebudayaan masyarakatnya, tata kota, arsitektur bangunan, hingga kulinernya. Selain itu, jika mau membaca sejarah, tentunya masyarakat juga akan merasakan magnet yang besar bahwa kota ini dulunya kerap menjadi saksi bisu atas beberapa peristiwa konflik yang pernah melanda Tanah Air.

Dari sekian banyak ciri khas yang dimiliki Kota Solo, ada satu hal yang tentunya menjadi daya tarik bagi warga Solo dan khususnya bagi wisatawan, yakni kulinernya. Bicara kuliner ibarat hawa nafsu manusia yang sulit dibendung, mandhek pait. Berbagai jenis makanan mulai dari yang asli Solo hingga luar negeri tersedia di kota ini.

Hidangan Istimewa Kampung

Namun ada satu yang memiliki nilai budaya yang tinggi dan rasa-rasanya tak bakal lekang oleh waktu meski geliat kuliner modern terus meningkat, yaitu warung hidangan istimewa kampung (hik) atau akrab disebut “angkringan”. Wisata kuliner ini, selain tertanam nilai budaya di dalamnya, secara harga juga sangat murah. Soal rasa pun tentunya tidak kalah dengan restoran-restoran mewah dan cepat saji.

Mulai dari pusat kota hingga pelosok desa di Kota Solo dan bahkan di kota-kota satelitnya—Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, dan Wonogiri—akan dijumpai hik sebagai warung favorit bagi masyarakat. Hik yang tersebar di segala lokasi hingga kini memang masih menjadi idola bagi masyarakat Solo dan sekitar khususnya. Sejak pagi hari hingga kembali pagi lagi, para penjaja warung hik akan stand by melayani masyarakat yang sewaktu-waktu butuh mencari makan.

Dengan menawarkan sajian makanan yang bervariatif ditambah dengan harga “damai”, tentunya menjadi hal yang wajar jika hik tetap menjadi tujuan wisata kuliner bagi masyarakat. Ketika di hik, biasanya Anda akan mendapati bungkusan nasi yang tertumpuk di wadah-wadah di atas gerobak. Bungkusan nasinya pun bermacam-macam jenis, ada yang berlauk bandeng atau orang sering menyebutnya “sega kucing”, oseng-oseng, tempe penyet, bakmi, telur, dan lain-lain. Selain itu, beraneka gorengan dan sate juga tersedia untuk menjadi teman bungkusan nasi yang Anda pilih.

Kemudian untuk minuman yang tersedia juga tak kalah variatif. Mulai dari teh manis, jahe gepuk, kopi dan susu sachet, hingga jeruk bisa menjadi pilihan bagi Anda. Namun dalam benak penulis, meskipun Kota Jogjakarta dan barangkali kota-kota lain juga memiliki angkringan yang serupa, satu hal yang menjadi ciri khas di hik atau angkringan Kota Solo ialah tehnya. Jika bisa jeli merasakannya, tentu akan menemui rasa yang lain dari yang lain, orang-orang biasa menyebutnya rasa sepet. Satu rasa inilah yang menjadi keunikan tersendiri bagi hik Solo dibandingkan dengan daerah lainnya.

Hik sebagai sistem budaya masyarakat

Sejauh penulis tinggal dan menempuh pendidikan di Kota Solo, banyak fenomena yang penulis jumpai dari hik yang tersebar di berbagai lokasi. Misalnya, hik di lingkungan mahasiswa akan berbeda dengan di pelosok desa dan pusat kota. Dalam hal ini, perbedaan yang dimaksud yaitu dari segi penyajian dan pelayanan yang diberikan oleh penjual.

Inilah yang menjadi sorotan dari penulis ketika melihat berbagai fenomena yang muncul dari sebuah hik. Pertama, hik sebagai sebuah produk budaya dan sistem budaya bagi masyarakat Solo yang tetap bertahan di tengah terpaan badai globalisasi. Sebagai produk budaya artinya hik yang tumbuh subur di seantero Solo ini memang murni lahir dari sebuah local wisdom.

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan dibagi menjadi tiga wujud, yang pertama wujud kebudayaan sebagai suatu komplek ide, norma, gagasan, nilai, peraturan, dan sebagainya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam suatu masyarakat. Dan yang ketiga, sebagai benda-benda hasil karya manusia. Jika menilik apa yang dikatakan pakar Sosiologi Indonesia tersebut, artinya hik juga merupakan sistem budaya sesuai dengan wujud yang kedua dari ketiga wujud yang disampaikannya.

Bagi sebagian orang yang pernah merasakan atmosfer Kota Solo tentu akan menyadari bahwa masyarakat Kota Solo gemar beraktivitas malam, entah untuk sekadar jagongan (kongkow) atau sembari makan. Jika demikian, wajar ketika hik menjadi idola bagi masyarakat ketika mereka butuh akan makan malam serta kongkow bersama teman-temannya. Hal ini bisa dibuktikan dengan menjamurnya Hik di berbagai lokasi yang mana setiap malamnya selalu dipadati mulai dari muda-mudi hingga orang tua.

Misalnya jika Anda berkunjung ke Solo, bertandanglah ke jembatan depan balaikota Solo atau di depan Pasar Cenderamata Gladag, di sana akan dijumpai betapa banyaknya orang yang menjadikan hik sebagai pilihan. Bahkan jika mau, cobalah ke pelosok desanya, Anda akan menyaksikan betapa menariknya budaya jagongan yang dilakukan oleh warga masyarakat Solo. Semakin malam hik akan semakin dibanjiri pembeli. Budaya jagongan di hik sebagai realitas sosial inilah yang menjadikan hik sebagai perwujudan sebuah kearifan lokal masyarakat dengan persepsi yang penuh makna baik dalam struktur dan perilaku masyarakatnya.

Hik sebagai peneguh ekonomi masyarakat

Kedua, hik sebagai sumber finansial bagi para penjajanya. Barangkali Jokowi pernah mendengungkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip ekonomi regional, hik lah sebagai satu contoh bagaimana prinsip ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang bahkan mampu menopang perekonian dalam skala yang lebih tinggi.

Dengan prinsip ekonomi kerakyatannya inilah, Jokowi kala menjabat sebagai Walikota Solo benar-benar ingin menjadikan usaha-usaha dari masyarakat kecil dan menengah, seperti hik, agar mampu menghasilkan nilai ekonomis yang diharapkan bisa menopang kebutuhan finansial, minimal di lingkup keluarganya.

Di akhir, fenomena hik yang ada di Kota Solo dan sekitarnya ini memang patut untuk diapresiasi karena selain menjadi sistem budaya di masyarakat, hik juga mampu memberi nilai ekonomis bagi masyarakat. Namun, harmonisasi budaya dengan ekonomi masyarakat dari sebuah hik bisa jadi akan mulai memudar jika pemerintah dan masyarakat tidak menyadari pentingnya mempertahankan prinsip ekonomi kerakyatan dengan menahan laju warung-warung modern yang kini mulai menjamur dan seolah bakal mulai menggeser hik sebagai sebuah produk dan sistem budaya yang telah ada sejak bertahun-tahun lamanya.

 

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo, mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi di FT UNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s