Dinamika PMII dan Corak Islam Indonesia

Oleh: Ahmad Rodif Hafidz[1]

Sejak didirikan pada tanggal 17 April 1960 (17 Syawal 1379 Hijriyah) di Surabaya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang mampu memberikan pengabdian secara nyata bagi bangsa Indonesia. Kini di usianya yang menginjak 55 tahun, melalui pelbagai dinamika yang ada PMII kian menjelma sebagai organisasi mahasiswa terbesar dan menjadi pilar dalam merawat corak Islam Indonesia yang ramah, menghargai kearifan lokal juga segenap keberagaman yang ada.

Corak Islam Indonesia yang menjadi identitas PMII tentunya tak dapat dilepaskan dari Nahdlatul Ulama (NU), sebab memang dari situlah PMII lahir. Kendati pada tahun 1972 dalam Mubes III di Malang, PMII menyatakan diri independen dari NU secara organisasi lantaran tak mau terseret dalam persoalan politik praktis mengingat pada masa itu NU menjadi partai politik peserta Pemilu. Namun dalam prosesnya, ketika rezim Orde Baru memimpin, NU dan PMII terus dipinggirkan karena pemerintah lebih menghendaki corak Islam modernis sementara NU dan PMII lebih identik dengan Islam tradisionalis.

Gejolak panjang di tubuh NU pada masa itu membuat organisasi masyarakat terbesar se-Indonesia itu akhirnya menyatakan diri untuk kembali ke khittah 1926 dan menarik diri dari kancah politik praktis. Pasca itu, perdebatan panjang juga terjadi di tubuh PMII, apakah akan kembali ke NU atau tetap independen. Pada tahun 1991 dalam Kongres ke-X di Jakarta, kemudian PMII memilih memperbaharui hubungan dengan NU yang dikenal dengan istilah interdependensi hingga sekarang. PMII tidak bernaung di bawah NU secara struktur organisasi, namun secara kultur keislaman PMII menjadi perpanjangan tangan NU untuk turut serta menjaga paham Islam Indonesia dari ancaman kalangan ekstremis di tingkatan kampus (Andree Fillard: 1999).

Meminjam ungkapan latin dari seorang filsuf ternama Romawi, Marcus Tullius Cicero, historia est magistra vitae yang maknanya sejarah adalah guru kehidupan, sejarah panjang dinamika sosial dan politik yang dialami membuat PMII terus belajar untuk melakukan inovasi kaderisasi agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Dari pelbagai dialektika teoritis-praktis, PMII mengklaim dirinya sebagai kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk mengasah kesadaran intelektual dengan berbalut keislaman sebagai ruang produksi pemimpin di masa mendatang.

Aswaja sebagai Identitas

Sebagai organisasi pengkaderan, keseimbangan kuantitas dan kualitas tentu menjadi acuan dalam proses kaderisasi yang dilakukan PMII. Meski mayoritas kader-kader PMII diisi oleh mahasiswa yang memiliki latar belakang NU, tak menutup kemungkinan pula bagi kalangan luar NU untuk bisa bergabung dengan PMII karena sejatinya identitas keislaman yang ditawarkan oleh PMII adalah Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) yang memiliki makna global dengan segenap prinsip-prinsip di dalamnya.

Aswaja kemudian dianggap sebagai identitas pembeda antara PMII dengan organisasi pergerakan mahasiswa lainnya. Aswaja dimaknai sebagai manhajul fikr walharakah (kerangka berpikir dan kerangka gerakan). Di dalamnya terkandung prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi), ta’addul (tegak lurus), dan amar makruf nahi munkar. Tak hanya itu, Aswaja kemudian disandingkan dengan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang memuat nilai hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) sebagai garis vertikal sikap penghambaan, manusia dengan manusia (hablumminannas) sebagai garis horizontal sikap humanis, dan manusia dengan alam (hablumminal alam) sebagai bagian dari kosmos. Dalam praktiknya, Aswaja dan NDP dijadikan sebagai pisau analisis bagi PMII untuk membedah pelbagai persoalan yang ada. Maka, menjadi keharusan bagi kader PMII dalam setiap gerak langkahnya untuk dapat mengedepankan dua pedoman tersebut.

Dalam konteks keislaman, selama 55 tahun PMII mengisi dinamika kemahasiswaan dan kenegaraan, sama halnya dengan NU, PMII kerap dibenturkan dengan kelompok Islam modernis dan puritan yang berpandangan berbeda dengan Islam Indonesia yang cenderung tradisionalis sebagaimana yang diusung PMII. Apalagi ketika kini nilai-nilai keislaman yang dianggap PMII sesuai dengan lokalitas masyarakat Indonesia kian diusik oleh radikalisme yang mengatasnamakan Islam.

Hal itu bisa dilihat melalui media massa di mana sekarang masyarakat kerap dipertontonkan dengan wajah keislaman yang penuh konflik, radikalisasi, intoleran, dan tidak humanis. Padahal tentunya sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa hal itu jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam sebagai agama yang sejatinya membawa dan menebar kasih sayang juga keramahan bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Beragam tindakan yang dikatakan “melenceng” tersebut tidak hanya terjadi di Timur Tengah—yang memang sejak dulu dikenal rentan dengan konflik antar suku juga kelompok agama—, bahkan belakangan konflik tersebut kian santer diarahkan ke Indonesia, negara yang multikultural. Apabila tidak segera diambil langkah antisipasi yang tegas dari pihak otoritas untuk membentengi negara dari radikalisme tersebut, maka ancaman terbesar yang akan muncul adalah disintegrasi bangsa.

Merawat Islam Indonesia

Dari banyak tindakan radikalisme tersebut, yang saat ini tengah menjadi sorotan adalah kemunculan ISIS/NIIS (Negara Islam Irak dan Syiria) yang sudah masuk ke Indonesia dan menjangkiti kalangan masyarakat utamanya para pemuda. Tentunya kita tak dapat mengandalkan langkah tegas dari pemerintah semata, namun perlu ada upaya bersama untuk membentengi dan menangkal paham Islam radikal yang diusung oleh NIIS dan sejenisnya.

Terkait persoalan ini, Aswaja yang identik dan mengideologis dalam PMII tentu bakal ikut menjadi sorotan lantaran selama ini dianggap keras bersuara tentang pembumian Islam Indonesia sebagai peradaban masyarakat Indonesia dan menentang kekerasan atas nama agama. Selain kaderisasi yang harus lebih dioptimalkan, aksi heroik dan intelektual yang kuat melekat dalam tubuh mahasiswa harus kembali dimunculkan untuk menolak paham-paham radikal tersebut demi mengantisipasi konfrontasi di tataran akar rumput dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam momentum hari lahir (Harlah) ke-55 ini, PMII harus merefleksikan dirinya, terutama dalam soal tradisi keislaman apabila tidak mau disebut kontradiksi antara ide yang digagas dengan gerakan yang dilakukan tidak sesuai. Karena tantangan zaman khususnya yang berkenaan dengan keberagamaan di Indonesia semakin rentan dengan konflik, maka PMII sebagai perawat identitas Islam Indonesia perlu berbenah. Ideologisasi Aswaja dan internalisasi NDP yang selama ini belum sempurna diterapkan dalam proses kaderisasi harus diperkuat. Wacana keislaman yang sesuai dengan karakter kearifan lokal, humanis, dan penuh keramahan sudah sepatunya menjadi identitas PMII untuk bisa ditawarkan kepada mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah sebagai jawaban akan keringnya identitas keislaman dan keberagamaan di bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Akhir kata, Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sekaligus menjadi mentor PMII dalam hal keindonesiaan pernah berkata, “Kita butuh Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.” Pada Harlahnya yang ke-55 tahun ini, semoga PMII kian mampu merawat corak Islam Indonesia yang mampu menghargai perbedaan, menebar kasih sayang, dan keramahan. Jayalah PMII!

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Cabang Kota Siolo masa khidmat 2014-2015 yang tengah menyelesaikan studi di Fakultas Teknik UNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s