Aswaja, Sintesis Rasionalitas dan Literalitas

Oleh Ahmad Rodif Hafidz[1]

Imam al-Ays’ari (wafat 935 M) dikenal sebagai rujukan bagi jami’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dalam bidang aqidah. Ia mempelopori ahlussunnah wal jamaah yang kemudian oleh KH Said Agil Siradj pada tahun 1996 dianggap sebagai manhaj al-fikr bukan madzhab bagi warga Nahdliyyin. Kita tahu bahwa label “ahlussunnah wal jamaah” sendiri tidak serta merta muncul ketika Imam al-Asy’ari hidup. Secara gagasan dan praktiknya aswaja memang sudah ada sejak masa itu namun oleh az-Zabidi yang wafat pada tahun1205 M istilah aswaja itu baru dimunculkan (“Pergolakan di Jantung Tradisi—NU yang Saya Amati” karya KH As’ad Said Ali).

Dalam pandangan Asy’ari, gagasan dan kesepakatan dalam masyarakat salaf (sahabat, tabi’in, dan tibi’ut tabi’in) dapat dijadikan sebagai pijakan hukum melalui metode ijma’ dan qiyas. Ini merupakan sebuah metode yang menyerupai gagasan yang pernah dilontarkan oleh Imam Syafi’i dalam ilmu usul fiqh.

Pandangan Asy’ari ini kemudian diperhalus oleh Imam Manshur al-Maturidi yang mengungkapkan bahwa wahyu harus diterima secara penuh. Lalu dengan cara apa memahami dasar literalis tersebut? Akal yang telah dianugerahkan oleh Allah harus berperan untuk “mentakwilkan” wahyu Tuhan tersebut. Seperti pada ayat-ayat tajsim (Allah bertubuh) atau tasybih (Allah serupa makhluk) harus ditafsirkan secara majazi (kiasan) dan bukan literal.

Konsep tentang aswaja ini pada mulanya hanya diminati oleh ahli fiqh, hadits, dan kalangan awam, namun kemudian oleh amirul mu’minin konsep ini juga diadopsi. Mereka berdasar karena apa yang telah digagas oleh al-Ays’ari ini merupakan sebuah tekanan untuk tertib sosial untuk mewujudkan dan melaksanakan syariat Islam (bukan berarti negara Islam). Selain itu ada pula konseptualisasi Ghazali mengenai integrasi nizam al-din dan nizam al-dunya adalah ider cemerlang untuk mengatasi krisis politik umat Islam. Dan memang inilah yang pada waktu itu sangat dibutuhkan oleh para penguasa politik untuk menstabilkan pemerintahannya.

Asy’ari dikenal sebagai pelopor ahlussunnah wal jamaah karena ulama yang ahli dalam ilmu kalam ini dianggap telah berhasil mensintesiskan pendekatan rasionalis (Muktazilah) dan literalis (Ibn Hanbal). Dan oleh Ghazali yang merupakan pengikutnya konsep ini diteorisasi kembali dan dikembangkan sehingga bisa diterima secara luas sampai sekarang.

Dianggap telah berhasil mengambil sebuah jalan moderasi (tawassuth) dari pertikaian teologis pada zamannya, artinya Imam al-Asy’ari mengakui terhadap rasionalitas namun pada tingkat tertentu juga harus tunduk pada wahyu. Dari sinilah kemudian NU sebagai ormas terbesar di nusantara menjadikan tawassuth (moderat) sebagai salah satu prinsip dalam kehidupan bermasyarakat. Buktinya, dalam berbagai hal memang NU atau banom-banom yang ada di bawahnya sering kali ditunjuk sebagai pilar penengah dalam pengambilan setiap keputusan. Ketika muncul perdebatan antara kaum konservatif dan liberal, NU lah yang kemudian selalu muncul sebagai tonggak perdamaian antar keduanya.

Dalam konsepnya, Asy’ari menjelaskan bahwa fungsi rasionalitas digunakan untuk menerjemahkan, menjelaskan, dan menafsirkan wahyu. Bukan mempertanyakan wahyu itu sendiri. Dan ketika akal tidak lagi mampu menjelaskan wahyu maka akal harus tunduk dan mengikuti wahyu.

Penulis beranggapan bahwa adanya akal (rasio) bukan untuk mengkritisi segala hal. Akal manusia memiliki sebuah keterbatasan yang pada titik-titik tertentu sudah tidak mampu lagi untuk mendiskusikan dan mengkritisi sesuatu. Misalnya saja mengkritisi tentang surga dan neraka yang menjadi rahasia Allah, tentu sebagai orang yang beriman dalam tahap tertentu kita akan menemui titik klimaks dan sudah tidak bisa lagi mendebatkan tentang kekuasaan Allah yang Mahakuasa. Dan dalam fase ini maka pendekatan secara literalis kemudian kita terapkan dan kita harus mengimaninya.

Al-Asy’ari menganggap ketika akal memiliki keterbatasan sebaliknya wahyu tidak, karena merupakan bagian dari sifat Allah yang qadim. Sehingga kenapa konsep moderat dipilih olehnya karena memang inilah yang kemudian dianggap sebagai langkah tepat untuk menengahi pertikaian antara kaum muktazilah dan kaum lainnya; non-muktazilah. Ketika itu kaum muktazilah sebagai sekte dalam teologi Islam yang memiliki kecenderungan rasionalitas telah dianggap sesat dan kafir oleh sekte lain. Al-Asy’ari merekonstruksi gagasan di antara keduanya dan kemudian memunculkan sintesis antara kaum rasionalis dan literalis yang kemudian konsep itulah yang dipakai oleh kaum ahlussunnah wal jamaah dalam menyampaikan setiap dakwahnya, Islam moderat.

Dalam hal ini tentunya penulis sudah cukup menggambarkan bahwa rasionalitas memang perlu digunakan untuk membuat sebuah penafsiran (takwil) terhadap wahyu (literal) yang susah dicerna. Namun juga keterbatasan dari akal harus diakui betul agar tidak terjadi konsep yang kebablasan dalam menerima wahyu. Sikap tunduk terhadap wahyu harus dipatuhi dalam fase-fase tertentu ketika memang kita dituntut untuk tidak perlu menggunakan rasio lagi dan hanya mengimani apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT.

[1] Penulis adalah Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo, mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi di FT UNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s