Sejarah PMII Solo [1]

BAB I
MASA EMBRIONAL DAN PERTUMBUHAN (1965/1963)

  1. BERDIRINYA IPNU-IPPNU

Kelahiran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dapat dipisahkan dengan kelahiran dan keberadaan IPNU-IPPNU. Secara Yuridis Formal bahkan telah dicantumkan dalam mukaddimah PD/PRT. Pertama PMII (sekarang istilahnya AD/ART-pen) telah dinyatakan dengan tegas bahwasanya PMII adalah kelanjutan dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang telah dibentuk dalam Muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat.

Oleh karena itu sebelum kita menginjak tentang sejarah seperempat abad perjuangan PMII alangkah lebih baiknya apabila kita menengok sebentar tentang kelahiran dan keberadaan IPNU sebagai “Modal Dasar” berdirinya PMII. Bukankah masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu?

Upaya untuk membentuk wadah organisasi pelajar di kalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Bahkan sebelum jaman kemerdekaan upaya itu telah terwujud walau dalam bentuk yang sedehana. Tercatat dalam sejarah perjalanan IPNU-IPPNU bahwa pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah berdiri 1 (satu) organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren. Organisasi itu kemudian dikenal dengan nama PERSATUAN SANTRI NAHDATUL OELAMA (PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok pesantren saja bahkan hanya pada pondok pesantren Jawa Timur, tetapi keberadaannya itu, patut dicatat dalam lembaran sejarah terutama sejarah kaum Nahdliyin, karena hal ini merupakan satu kesadaran yang penting; betapa perlunya hidup berorganisasi. Entah karena situasi Nasional ataupun karena terdapatnya kelemahan-kelemahan organisasional PSNO itu sendiri, akhirnya organisasi ini tidak pernah terdengar dalam percaturan dunia pelajar Indonesia, sampai dengan timbulnya satu kesadaran baru di kalangan pelajar NU yang berada di Surakarta untuk kembali menghimpun diri dalam satu wadah perjuangan khusus pelajar.

Di kota Bengawan Surakarta, (yang biasa dijadikan barometernya politik Jawa Tengah-pen) Sekelompok Pelajar SMA Negeri Surakarta yang dipelopori oleh rekan Mustahal Ahmad dan A Khalid Mawardi pada tanggal 27 Desember 1953, mendirikan satu wadah organisasi yang menghimpun para pelajar NU. Organisasi ini masih bersifat lokal dan bernama Ikatan Pelajar Nahdatul ‘Ulama Surkarta (IPNUS). Agar wadah ini berkembang menjadi wadah Nasional dan manfaatnya akan jauh lebih besar, maka 4 (empat) orang tokoh pelajar NU (rekan A. Mustahhal Ahmad, A. Ghoni Farida, dan rekan Sofyan Kholil serta A. Khalid Mawardi) dalam Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan Maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan berbicara.

Dalam acara persidangan tersebut juru bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan A. Khalid Mawardi (Drs. H. Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara secara kebetulan usia beliau lebih tua dari A. Khalid Mawardi, tetapi karena vokal A. Khalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu-pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa pentingnya ada satu wadah di kalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini bertujuan antara lain:

  1. untuk melanjutkan azas NU yakni Ahlus Sunnah Waljamaah;
  2. sebagai konsekensi terhadap Partai NU yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari masyumi dan menjadi partai yang berdiri sendiri;
  3. adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar pesantren.[1]

Akhirnya setelah mendengar dari kedua tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat lahirnya organisasi Pelajar NU ini dan menunjuk rekan Tolhah Mansyur sebagai ketua pertama. (kini KH. Dr. Tolhah mansyur, SH.) duduk sebagai Suriah/Rois Tsani PBNU-pen (1984). Organisasi ini tentu saja belum sempurna, oleh karena itu pada tanggal 29 April – 1 Mei 1954 diadakan konferensi lima daerah IPNU (lokal) di Kota Bengawan Surakarta. Para peserta datang dari lokal-lokal IPNU; Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Kediri, dan Jombang. Konferensi ini berhasil menyusun AD/ART (kini PD/PRT) dan menetapkan tanda 24 Februari 1954 sebagai hari kelahiran IPNU.[2]

Organisasi pelajar ini hanya menampung pelajar pria saja. Oleh karena kaidah NU memang tidak membenarkan pria dan wanita bergaul terlalu akrab. Sehingga tidak dimungkinkan dalam wadah ini diterimanya pelajar putri menjadi anggota. Untuk mengatasi kekosongan wadah organisasi putri ini para pelajar Madrasah Nahdatul Muslimat Surakarta pada awal tahun 1955 mendirikan Ikatan Pelajar Putri Solo.

Organisasi ini untuk pertama kali disponsori oleh Ummroh, Nihayah Mujib, Rumsiah. Bersamaan dengan Muktamar I IPNU di Malang yang diselenggarakan pada tanggal 28 Februari-5 Maret 1955 diusulkan dalam forum Muktamar ini dibentuknya satu wadah organisasi baru yang khusus menampung pelajar putri NU. Hari bersejarah itu lahir di tengah-tengah Muktamar pada tanggal 2 Maret 1955 dan ditetapkan sebagai hari lahirnya IPPNU. Dan untuk merealisir program kerja dari IPPNU tersebut. Untuk pertama kalinya di Kota Solo pada tanggal 18-21 Januari 1956 dilaksanakan konferensi Besar I IPPNU.

Dalam wadah IPNU-IPPNU itu banyak juga terdapat para mahasiswa yang menjadi anggotanya, bahkan hampir seluruh anggota pengurus Pusat telah berpredikat sebagai mahasiswa. Oleh karena itu lama kelamaan ada keinginan di kalangan mereka untuk membentuk wadah yang khusus menghimpun para mahasiswa NU. Suara-suara ini sangat nyaring terdengar terutama dalam Muktamar III IPNU pada tanggal 1-5 Januari 1957 di Pekalongan, tetapi pucuk pimpinan IPNU sendiri masih belum menanggapi dengan serius suara-suara ini dikarenakan kondisi seperti yang dipaparkan di atas, yakni banyaknya pengurus IPNU-IPPNU yang telah menjadi mahasiswa. Sehingga dikhawatirkan kalau wadah khusus mahasiswa ini berdiri akan lenyaplah IPNU-IPPNU. Tetapi nampaknya aspirasi ini makin kuat, terbukti dalam Muktamar III IPNU pada tanggal 27-31 Desember 1958 di Cirebon pucuk pimpinan IPNU setelah didorong oleh para peserta Muktamar mengabulkan adanya satu wadah khusus yang menghimpun para mahasiswa NU tetapi secara fungsional dan organisatoris Struktural masih di dalam naungan IPNU-IPPNU yakni dengan nama wadah Departemen Perguruan Tinggi IPNU.

Nampaknya upaya untuk menanggulangi permasalah ini belum menunjukkan hasilnya. Keberadaan Departemen Perguruan Tinggi IPNU tidak berhasil menjawab permasalahan mahasiswa NU. Terbukti dalam Konferensi Besar I IPNU pada tanggal 14-16 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta Forum konferensi Besar memutuskan menyetujui terbentuknya organisasi mahasiswa NU yang terpisah secara struktural maupun fungsional dari IPNU IPPNU. Untuk mengetahui proses kelahiran organisasi mahasiswa NU ini pembaca dapat mengikuti uraian kami dalam bagian berikutnya yakni mahasiswa NU dalam IPNU-IPPNU.

[1] Sejarah singkat IPNU-IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU-IPPNU kodya Surakarta tahun 1970, hal. 11

[2] Ibid. Hal 12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s